Devosi Rosario Di Bulan Oktober

Devosi Rosario Di Bulan Oktober
Devosi Rosario Di Bulan Oktober
- Setiap tanggal 7 Oktober semua umat Kristen memperingati insiden Bunda Maria yang diangkat oleh Gereja sebagai ratu Rosari. Oleh lantaran itu maka bulan Oktober diperingati sebagai bulan rosario oleh umat katolik diseluruh dunia.

 Oktober semua umat Kristen memperingati insiden Bunda Maria yang diangkat oleh Gereja s DEVOSI ROSARIO DI BULAN OKTOBER

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lingkungan paroki dalam memperingati bulan Rosario ini yaitu menggiatkan doa rosario di kelompok-kelompok basis, kelompok kategorial, aktivitas kerohanian disekolah. Juga diadakan ziarah-ziarah ke taman-taman doa berupa gua Maria. Tapi sesungguhnya bukan hanya doa rosario yang digiatkan, melainkan kesempatan untuk menimba spritualitas Bunda Maria, contohnya dengan meneladani imannya, keterbukaannya kepada kehendak Allah, kesetiaannya mendampingi Yesus hingga disalib, dan sebagainya. Hal ini sanggup direnungkan dalam aktivitas rekoleksi, retret, ceramah atau sharing iman.

Baca juga : SI PEMALAS TERCANTIK DI DUNIA

Sesungguhnya doa rosario yaitu doa kepada Tuhan Yesus, dengan meneladani intersesi (bantuan doa) Bunda Maria. Melalui Maria  menuju Yesus (Per Mariam Et Jesum). Didalam doa Rosario Bunda Maria menemani umatnya untuk merenungkan insiden kelahiran, penderitaan, dan kemuliaan Putranya. Dengan berdoa Rosario setiap orang katolik sanggup merenungkan misteri kehidupan Yesus dengan sepenuh hati.

Cukup banyak umat Kristen yang mendaraskan doa ini pada saat-saat tertentu, bahkan adapula yang melakukannya setiap hari.

Baca juga : DEKLINASI I JAMAK : ROSA

Rosario berasal dari Bahasa Latin yaitu “Rosarium” yang berarti taman/karangan bunga mawar. Kata ini menyimbolkan: Pertama, ungkapan doa yang ikhlas terhadap Bunda Maria, bagaikan mawar indah yang harum mewangi. Kedua, mengatakan keunggulan Bunda Maria diantara perempuan dan umat beriman pada  umumnya, lantaran ia penuh rahmat, ratu para perawan dan bunda Yesus.

Pada kala pertengahan, ada banyak biarawan monastic yang tidak bisa berbahasa Latin, sehingga mereka kesulitan mengikuti doa offisi (mendaraskan mazmur). Maka mereka mengganti doa offisi dengan mendaraskan 150 kali doa Bapa Kami. Jumlah doa Bapa Kami itu dihitung dengan seuntai tali manik-manik atau tali berikat-ikat. Tali itu disebut Pater Noster (Bapa Kami). Seiring dengan perkembangan devosi umat kepada bunda Maria, maka kebiasaan mendoakan Bapa Kami dengan manik-manik itu bergeser kepada doa Salam Maria. Doa Salam Maria didaraskan dan dihitung dengan memakai tali Pater Noster. Rangkaian doa Salam Maria yang didoakan 150 kali itu disebut “Psalterium Marianum”, artinya Kitab Mazmur Maria. Seratus lima puluh Salam Maria terbagi atas 15 sepuluhan yang masing-masing didahului doa Bapa Kami sebagai antiphon dan ditutup Kemuliaan sebagai doa tanggapan. Rosario kemudian berperan sebagai peniru sekaligus pengganti offisi kaum biarawan yang tidak bisa membaca. Nah semenjak kala XII, doa salam Maria mulai diulang – ulang untuk mengenang 5 sukacita Maria yaitu kabar dari malaikat, kelahiran Yesus, kebangkitan Yesus, kenaikan Yesus dan pengangkatan Maria ke surga.

Baca juga : LELAKI SEPERTI ITU

Rosario merupakan sarana doa untuk merenungkan peristiwa-peristiwa keselamatan yang dikerjakan oleh Allah melalui Yesus. Sambil berdoa rosario kita merenungkan misteri-misteri kehidupan Yesus semenjak dari kandungan hingga naik ke surga. Dari setiap insiden keselamatan tersebut terlihat bahwa peranan Yesus dan Maria, ibuNya yaitu tak terpisahkan. Peristiwa keselamatan inilah yang penting untuk kita peringati setiap tahun, untuk memperdalam kepercayaan kita akan kasih Allah, terutama dengan merenungkan peristiwa-peristiwa dalam rosario. Maka sesungguhnya jikalau kita berdoa rosario tidak cukup hanya mendoakan Salam Maria 53x dan Bapa Kami 6x, tetapi sambil mendaraskan doa-doa itu kita merenungkan setiap insiden yang kita doakan.   

Sarana yang biasa dipakai dalam doa Rosario yaitu untaian biji-bijian yang bentuknya menyerupai kalung. Pada awalnya, biji-biji itu sekedar alat hitung untuk menandai alur Salam Maria. Namun biji itu juga sanggup menjadi symbol yang lebih dalam. Perlu diperhatikan, biji-biji itu menyatu pada salib. Dari sini alur doa dimulai dan diakhiri. Hal ini melambangkan kehidupan dan doa orang beriman yang terpusat pada Kristus. Segala sesuatu dimulai dari Dia, tertuju kepadaNya dan lewat Dia, dalam Roh Kudus hingga kepada Bapa. Beato Bertolo Longo (seorang rohaniwan) melihat untaian biji-biji itu menyerupai “rantai” yang menghubungkan kita dengan Allah. Sebuah rantai yang halus, lantaran haluslah ikatan kita dengan Allah yang yaitu Bapa kita juga. Ia yaitu sebuah rantai “putrawi” yang menyebabkan kita harmonis dengan Maria, hamba Tuhan (Luk 1:38), dan lebih2 dengan Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, menyebabkan diriNya seorang “hamba” lantaran kasihNya kepada kita (Flp2:6-7). Untaian biji-bijian itu karenanya yaitu lambang ikatan korelasi dan persaudaraan yang menyatukan kita semua dalam Kristus.

Adapula kebiasaan orang  memakai Rosario sebagai kalung, gantungan di mobil, dan sebagainya. Rosario sudah diberkati, jadi kehadirannya membantu meyakinkan pemakai/pemilik bahwa ia tidak berjalan sendiri melainkan bersama Tuhan.

Selain doa Rosario ada juga doa lain yang juga merupakan devosi kepada Bunda Maria. Doa-doa itu seperti: Doa Angelus (Malaikat Allah), Novena Tiga Salam Maria, dan Litani Bunda Maria.


Sumber https://www.bloggerntt.com/